Mei 22, 2022

ONLINE NEWS

Jurnal Berita Terkini

Nostalgia Timnas Indonesia: Ketika Air Mata Timnas Indonesia Mengucur di Final SEA Games 1997

ONLINENEWS, Jakarta : Timnas Indonesia pasang target medali emas pada cabang olahraga sepak bola di SEA Games 2021. Maklum Indonesia sudah sangat lama tidak membawa pulang prestasi tertinggi dari sepak bola SEA Games.

Berulang kali, Timnas Indonesia hanya sekadar nyaris dan harus puas meraih perak. Seperti sejarah kelam pada 18 Oktober 1997 di Stadion Utama Senayan.

Kala itu Timnas Indonesia kembali terlibat duel sengit penuh drama melawan Thailand dalam final SEA Games ke-11. Partai ini merupakan duel kedua bagi Indonesia dan Thailand pada laga final, setelah sebelumnya terjadi pada tahun 1991 di Manila.

Indonesia dan Thailand memang sedang menjadi raja Asia Tenggara pada era itu. Kedua tim lolos ke semifinal dengan status juara grup tanpa menelan kekalahan. Indonesia jadi tim yang paling produktif dengan mencetak 13 gol, sementara hanya kebobolan sekali dan mencetak 11 gol.

Pertarungan edisi 1997 hampir mirip dengan 1991. Kedua tim imbang dengan skor 1-1 hingga 120 menit. Pada edisi kali ini, Indonesia tertunduk lesu setelah kalah lewat adu penalti. Dua eksekusi penalti dari Ronny Wabia dan Uston Nawawi yang melambung tipis di atas mistar, membuat Indonesia harus rela menyerahkan medali emas kepada Thailand yang menang 5-3.

Pada babak final, Stadion Utama Senayan dipenuhi 110 ribu penonton. Penonton bertindak brutal dengan melempar aneka benda dan membakar bangku kayu pada saat jeda. Akibat kerusuhan ini, pertandingan babak kedua sempat terhenti selama satu jam.

Tangis Pecah

Seperti dilaporkan Harian Kompas edisi 19 Oktober 1997, seusai kalah lewat adu penalti, Ronny Wabia menangis. Ia juga dipapah rekan-rekannya karena tak sanggup berjalan keluar lapangan. Sang pelatih, Henk Wullems, mencoba menghibur anak buahnya.

Henk mengakui Timnas Indonesia tak mempersiapkan diri menghadapi babak adu penalti. “Lagipula, dalam adu tendangan penalti, faktor yang paling penting adalah mental dan kesiapan pemain untuk mengeksekusi. Kalau mereka bagus dalam latihan, tetapi tidak siap, hal itu juga tidak mungkin,” ujar Henk Wullems.

Pelatih asal Belanda itu juga menceritakan, dalam penunjukan lima eksekutor penalti, ia hanya menunjuk pemain-pemain yang siap. Ketika ditanya, hanya empat pemain yang menyatakan siap, yakni, Aji Santoso, Fachry Husaini, Ronny Wabia, dan Ansyari Lubis. Uston belum sempat ditanya namun menyatakan siap.

Menurut Henk, masih dikutip dari Harian Kompas, pemain Indonesia memikul beban yang berat untuk menjadi pemenang. Apalagi, pada SEA Games ke-19 itu, Indonesia menjadi juara umum. Publik merasa status juara tak lengkap tanpa medali emas sepak bola.

“Saat bertemu Thailand di final kami masih merasa yakin dapat menang, apalagi perjalanan dari babak penyisihan mulus. Tapi mungkin Thailand bisa membaca permainan kami dan mereka bermain dengan pola bertahan sampai akhirnya adu penalti dan kami kalah,” kenang bek Robby Darwis membuka kenangan 20 tahun yang lalu kepada Bola.com, Senin (7/8/2017).

Data dan Fakta SEA Games 1997

Babak penyisihan Grup A:

  • Indonesia Vs Laos 5-2
  • Indonesia Vs Vietnam 2-2
  • Indonesia Vs Malaysia 4-0
  • Indonesia Vs Filipina 2-0

Semifinal:

  • Indonesia Vs Singapura 2-1

Final:

  • Thailand Vs Indonesia 4-2 (1-1)

Komposisi skuat Indonesia: Kurnia Sandi; Anang Maruf/Uston Nawawi, Aji Santoso, Khairil Anwar,Nuralim/Aples Tecuari, Sugiantoro, Ansyari Lubis, Bima Sakti,Fachri Husaini, Widodo C. Putra/Ronny Wabia, Kurniawan Dwi Yulianto.

Sumber : bola.com